BAGIAN 2
Jum’at siang ini kian cerah. Awan putih di birunya langit terpampang menawan memanjakan mata. Burung-burung juga sesekali terlihat beterbangan mengudara kesana kemari dengan riang. Selepas melaksanakan sholat jum’at di masjid, aku tak kembali ke kamar. Namun kuputuskan untuk duduk santai di serambi masjid bersama dengan teman-teman pengurus dan takmir. Di sepanjang jalan pondok, terlihat dengan jelas lalu lalang jamaah sholat jum’at. Aku sangat bahagia dan bersyukur bisa berada di lingkungan yang bisa membawaku untuk lebih dekat dengan-Nya.
“Alvin. Habis ini kamu beneran mau boyong ta?” Tanya Aldi, lelaki berkacamata asal Jombang yang sudah kurang lebih 2 tahun menjabat sebagai sekretaris pondok.
“Iya Al. Kamu sering-sering main ke rumahku ya. Nanti aku kenalin kamu sama sepupuku. Cantik loh haha.” Candaku. Dua hari lagi memang waktunya pergantian kepengurusan pondok. Dan saat itu, aku telah selesai mengemban amanah selaku ketua pondok. Sesuai rencana awal, malam nanti aku ingin menemui Abah untuk meminta nasihat perihal salah satu santri beliau. Ya, Alfira.
“Ayo vin ke kamar. Ngantuk nih. Aku mau balik, kamu masih ingin disini ta?” Tanya Aldi mengagetkanku.
“Ayo. Aku juga ingin istirahat di kamar. Aku duluan ya teman-teman.” Aku pun berlalu meninggalkan beberapa temanku yang masih asik bercengkrama.
*******
“Bagaimana le, apa ada yang ingin sampaikan? Sebentar ya, firaa. nduk. mriki.” Deg. Hati bertambah tidak menentu rasanya. Aku terus menunduk kala Alfira datang menghampiri Abah.
“Buatkan teh 2 ya nduk. 1 buat Abah, 1 buat mas Alvin.”
“Nggeh Abah, sekedap fira buatkan. Fira izin ke dapur dulu nggeh Abah.” Ucap Alfira sembari berlalu. Selalu sama. Ia begitu sopan. Sungguh hebat orang tuanya yang mendidiknya hingga memiliki adab begitu tinggi.
“Begini, Abah. Sebelumnya Alvin meminta maaf. Tujuan Alvin menghadap Abah yaitu untuk meminta nasihat tentang perempuan yang ingin Alvin nikahi. Alvin ingin meminta izin dan restu Abah.” Ucapku sambil menunduk. Tak sanggup rasanya mata ini memandang wajah guru yang selama ini kuhormati.
“Abah tahu le. InsyaAllah dia anak yang sholihah dan terbaik buatmu. Alfira kan?” Ucap Abah sembari tersenyum meyakinkan. Aku tak bisa berkutik. Entah kenapa kepala ini hanya bisa menunduk. Beliau seolah tahu apa yang aku pikirkan dan apa yang kukhawatirkan. Tak lama setelah itu, muncullah Alfira dengan membawa baki berisikan 2 teh.
“Ini tehnya Abah.” Ucap Alfira lembut sembari meletakkan 2 gelas teh.
“Duduk dulu nduk. Abah ingin bicara sebentar denganmu” Dawuh Abah tiba-tiba. Gadis itu pun duduk patuh di samping Abah.
“Nduk. Ini mas Alvin. Dia insyaAllah laki-laki yang sholeh dan bisa menjadi imam yang baik untukmu kelak. Dia menyampaikan tujuan yang baik denganmu. Apa kamu bersedia?” Ucap Abah dengan lembut karena memang telah menganggap Alfira layaknya putri sendiri. Kutengok sekilas wajahnya. Kulihat sedikit senyum malu terukir tipis di lengkung bibirnya. Dengan pelan dia pun mengangguk. MasyaAllah.
“Le. Alfira juga insyaAllah siap menjadi calon istrimu. Besok ayah dan ibumu disuruh datang ke sini ya? Niat baik tidak boleh ditunda-tunda. Besok kamu lamar Alfira, perihal keluarganya itu nanti menjadi urusan Abah. InsyaAllah mereka juga sependapat dengan Abah” Dawuh Abah mantap.
“Enggeh Abah, sendiko dawuh. Alhamdulillah” Ya. Hanya kata-kata itu yang mampu aku ucapkan walau hatiku berkecambuk tak menentu. Rasa bahagia begitu meluap hingga cairan bening mengalir pelan dari sudut mata. Untaian syukur tak terlepas dari hati dan bibirku. Bersyukur. Benar-benar bersyukur kala Allah meridhoi apa yang menjadi hajatku. Di balik punggung Abah, nampak gadis itu tersenyum. Senyum yang sangat tersembunyi seolah-olah hanya boleh dia dan Allah yang tahu.
“Tak seorangpun di dunia ini yang bisa memahamimu selain Allah dan orang-orang yang dikehendaki-Nya. Di hadapan-Nya, semua yang ada di hatimu nampak jelas. Tak perlulah khawatir. Kamu bicara atau tidak, Dia selalu memahamimu bahkan saat kamu tidak memahami dirimu sendiri”.- Tam







